statue global warming

Selasa, 11 November 2008

Apakah Tuhan Punya Sosok?

Pencarian dan penyembahan terhadap Tuhan (atau pun apa pun nama yang diberikan mengikut bahasa dan tempatnya) sudah bisa dipastikan ada sejak manusia itu sadar bahwa ada yang menciptakan bumi dan segenap isinya ini. Entah itu pemikiran pribadi atau pun pemikiran karena diberitahukan oleh orang lain. Saat melihat matahari mungkin, atau saat melihat bulan. Atau bahkan saat saudara atau orang tuanya menghembuskan nafas terakhirnya. Macam-macamlah penyentaknya.
Menurut hemat penulis, krn manusia itu hanya punya 5 penginderaan (panca indra) bahkan kalau mau ditambahkan satu lagi, menjadi sad-indra (misalnya dikenal dgn 'mata ketiga'),tetap saja tidak akan mampu "menghadirkan" Tuhan secara lengkap utk dirinya; apalagi utk konsumsi orang lain! Kalau meyakini Tuhan Maha-besar, maka tak akan mungkin lalu membonsai Tuhan, mampir di penginderaannya utk dapat dipersepsikan oleh siapapun. Selanjutnya kalau kita percaya, pencipta sesuatu (dalam hal ini seharusnya berlaku juga bagi jagat raya)berada di luar ciptaannya, mana mungkin ia bisa masuk lagi dalam ciptaannya. Udara, ruang angkasa yg mahaluas ini, yg belum jelas di mana batasnya--krn belum ada ekspedisi ruang angkasa yg menemukan tepi langit--adalah ciptaan juga. Mana mungkin Tuhan bisa hadir sosoknya di langit misalnya; di sela-sela gunung misalnya. Termasuk juga, sebagai konsekuensi, tidak akan ada Tuhan di ruang tempat suci, gereja, masjid, pura, klenteng dsbnya. Sekali lagi, sebagai analog, seorang pematung, tidak akan bisa masuk atau merasuk dalam patungnya buatannya!
Kalau kita ramu teori-teori teology, di mana Tuhan itu tidak mengambil tempat, tidak ada di atas, juga tidak di bawah, tidak bisa dipersamakan atau dicarikan bandingan,kekal selamanya, maka hasil akhir matematikanya adalah NOL atau NIHIL. Dengan kata lain Tuhan itu TIDAK ADA secara analisis dan kemampuan jasmaniah yg dimiliki manusia sampai kapan pun. Secara metodologi juga masih kontroversial bagaimana caranya mendekati Tuhan itu. Apakah kita harus mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu (yg berarti menggali ke dalam diri)atau langsung mencari di luar diri. Misalnya kalau kita mau langsung kenali Tuhannmu lebih dahulu, maka Anda akan mengenali dirimu, bagimani logokinya? Kita tentu masih ingat, waktu di sekolah dasar, sebelum belajar hal-hal yang abstra, seperti kuantum 1, 10, 100 dstnya, kita diwajibkan memakai lidi untuk mengenal konsep nilai 1, 2, 10 dstnya. Baru kemudian dari sana kita secara bertahap belajar yg lebih rumit, lebih abstrak,tanpa harus terdampingi oleh obyek fisiknya. dari situ pula kmudian kita diajari ilmu aljabar misalnya, suatu proses penguasaan matematika lebih lanjut yang menggunakan simbul-simbul (angka diganti dgn abjad) utk mewakili substansi atau nilai-nilai tertentu yg lebih besar menjadi sederhana. Menurut penulis, mungkin metode/cara ini pula yg lebih pragmatis (krn kita sudah terbiasa melakoni hal demikian) kalau mau "mendekati" Tuhan. Simbul-simbul, konstanta, variable, dan rumus-rumus harus diciptakan lebih dulu agar bisa mencapai bangun "persamaan" aljabar yang canggih .Semakin canggih, tentu semakin baik. Namum hasilnya apakah akan mencapai titik singgungnya, kembali bisa diprediksi NEHI atau NOL atau NIHIL, karena salah kita sendiri membagi bilangan NOL (baca: Tuhan) dengan berbagai angka (baca: agama.
Kemampuan kita tetap saja hanya membangun persamaan aljabar dengan simbul dan rumus2. Hanya sampai di situ!