Belanda atau Londo adalah sebuah kata yang mengerikan bagi tetua kita yg masih hidup. Betapa tidak. Mereka beberapa tahun mengalami kenangan buruk ditindas oleh orang-orang yang namanya Belanda itu di jaman penjajahan. Tetapi bagaimanakah dengan keadaan negeri asal-muasal orang Londo itu?
Kalau kita mau hidup tenang, jalan-jalan (khususnya jalan kaki) ke sana kemari tanpa rasa was-was akan diserempet/ditabrak oleh kendaraan bermotor yg ngebut atau rem-blong, dipalak atau ditodong, dihipnotis dan macam-macam kengerian lainnya seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, serta lepas dari polusi udara yang menyesakkan dada, maka ada sebuah kota yang patut dikunjungi di Belanda yaitu Deventer.
Kotanya kecil, namun cukup tertata dengan rapi bangunan, prasarana dan sarananya. Toko-toko (yg lantainya rata dengan jalan karena tidak kawatir dengan banjir dan utk memungkinkan pengunjung yg memakai kursi roda masuk) dikumpulkan dalam satu komplek di tengah kota yg disebut centrum, yg mudah diakses dengan kereta api, kendaraan roda empat, bus umum, sepeda bahkan kendaraan air (kanal). Kampus-kampusnya juga dibangun dekat simpul-simpul moda/arus transportasi ini. Moda transportasi (bus, kereta api dan pesawat terbang) terhubung satu dengan lainnya bukan saja secara fisik, tetapi juga secara waktu/jadual, sehingga penumpang yg baru turun dari bus segera bisa naik kereta yg hendak digunakan, demikian seterusnya dan sebaliknya. Penumpang kereta yang baru turun di stasiun, sudah ditunggu oleh bus kota yang berjadual ke beberapa arah yg sangat ketat dan rapat. Semua kayaknya bergerak atau digerakkan oleh jadual-jadual yang sudah terbagi dan terkoordinasi, sehingga masyarakat calon penumpang tak perlu lagi buru-buru mengejar tumpangan atau spare waktu berlebihan dan takut ketinggalan/ kehabisan tempat duduk.
Halte bus dibuat dekat-dekat komplek perumahan, sedang terminal bus berhampiran dengan stasiun kereta; takut apalagi? Dengan demikian semua mengalir seperti airnya yang berjalan wajar non-stop di permukaan yg relatif datar, tanpa ada sumbatan dan kemacetan. Makanya jangan heran, di sana lalu tidak banyak kendaraan pribadi lalu lalang, simpang siur, padahal jalannya cukup lebar dan mulus, lengkap dengan rambu-rambunya yg serba apik dan fungsional, bukan hanya dengan cahaya (bagi traffic lights), namun juga dengan suara bel. Bagi pemilik kendaraan pribadi, mereka mungkin sudah bersikap: untuk apa sudah-susah membawa kendaraan, kalau semua moda transport darat sudah demikian tertata, tertib dan teratur serta kondisi interiornya lux sebanding interior pesawat terbang. Sopir bus kotanya tak kalah keren dengan (kostum) pilot pesawat; tidak pakai kenek yg heboh teriak-teriak memanggil penumpang yang kalau di Indonesia dianggap buta atau tuli. Bus di sana sudah dilengkapi perangkat audio visual, serba mekanik-elektronik. Pintu buka tutup dikendalikan oleh si sopir saja. Hanya berhenti di halte yg ada permintaan untuk berhenti lewat pencetan alat yang terletak dekat tempat duduk masing-masing penumpang, atau karena ada penumpang menunggu di halte. Pembayaran sewanya juga sudah disederhanakan, dengan membeli tiket prabayar di tempat-tempat khusus, sehingga sopir tinggal men-cap saja ruas atau talon tiket agar tidak bisa dipakai ulang dan strip tiket itu tetap dibawa kembali oleh penumpang. Bedanya, penumpang dalam bus demikian harus memperhatikan layar video di mana rute, pergerakan dan posisi bus terpampang di atas kepala supir (yg tentu mudah dilihat krn menghadap ke penumpang) untuk minta berhenti menjelang bus sampai di halte tujuan.
Dengan menekan tombol yg ada di dekat tempat duduk masing-masing, maka sopir segera tahu bahwa akan ada penumpang minta diturunkan di halte di depannya. Kalau tidak ada yg minta turun dan juga tidak ada penumpang menunggu di halte, maka bus akan terus jalan...tidak berhenti atau ngetem seperti kebiasaan bus kota di negeri kita. Sungguh sebuah sistem dan kerjasama yang terpadu dan efisien. Tambahan persyaratannya kiranya adalah adanya mode transportasi terpadu, disiplin, imbalan sopir yang cukup dan tidak ada pungli /korupsi! Sehingga sekali lagi, tidak perlu kondektur yg bergelantungan di pintu bus yg terbuka; yang juga membuat udara luar berdebu masuk.
Yang perlu dicatat dan sangat menguntungkan transportasi darat di Belanda secara topografi adalah tidak ada lahan naik turun/tanjakan, karena Belanda tidak punya gunung sama sekali. Gunungnya, konon habis dibabat utk membuat bendung laut atau sistem pengairan dengan kombinasi kincir angin itu. Karena kecanggihan teknologinya maka kayaknya Belanda tidak akan pernah mengalami kekeringan deficit air, juga tak akan surplus air (kebanjiran).
Seperti namanya mengindikasikan (Hollowland/Holand), daratan Belanda berada di bawah permukaan laut. Sehingga kalau di darat mengalami kekurangan air, dengan mudah air laut dipompa masuk dan di"saring" ke daratan oleh tenaga kincir angin. Sebaliknya kalau daratan banyak menerima air hujan, maka segera si kincir angin akan memompa ke laut kelebihan air hujan itu. Demikianlah, maka sejauh-jauh mata memandang, sewaktu kita naik kereta api, kita seolah-olah melihat hamparan lapangan golf di kiri kanan jalan. Sebuah pemandangan yang unik sekali.
Satu lagi yg patut kita apresiasi dari 'penampakan' di ranah transportasi itu adalah penghargaan sistem prasarana kepada orang-orang jompo/cacat. Mereka bisa leluasa masuk toko sendiri atau naik kereta atau bus, karena permukaan jalan dan level bus dan toko dibuat sedemikian rupa, sehingga mereka bisa berjalan sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Dan di sana rupanya orang-orang tua/cacat juga sangat sadar diri, tidak mau merepoti otang lain yg sedang "sibuk" dengan bisnisnya masing-masing. Mereka pun setelah merasa jompo dengan iklas memisahkan diri dengan anak-anaknya yang masih produktif utk tinggal di "hotel" panti jompo dengan sentuhan fasilitas dan kasih sayang yang tidak berkurang. Bagaimana pun jaminan sosial/jaminan hari tua di sana memang dijamin dan sudah berjalan. Mereka rupanya lalu bermasyarakat dengan warga yang seusia dengan bimbingan dan pengawasan tenaga medis dan pembantu rumah tangga yg cukup.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar